Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa, Ahmad Nawawi. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Kondisi saluran irigasi atau kokar di Desa Maronge, Kabupaten Sumbawa, kini berada dalam situasi memprihatinkan. Tumpukan sedimen dan sampah yang menggunung dilaporkan menutup aliran air, sehingga mengancam keberlangsungan lahan pertanian warga.

Permasalahan ini mendapat sorotan serius dari Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Sumbawa, Ahmad Nawawi, yang meninjau langsung lokasi pada Minggu (2/3/2026). Ia menyebut penyumbatan telah terjadi sejak awal musim hujan dan hingga kini belum mendapat penanganan optimal.

Penyumbatan Parah di Bawah Jembatan Desa

Baca Juga:  Di Tengah Krisis Energi, Bupati Sumbawa Konsisten Gowes ke Kantor

Titik paling krusial berada di bawah jembatan desa. Aliran air hampir tertutup total oleh tumpukan ranting pohon, batang bambu, serta material sedimen yang terbawa arus hujan deras.

Akibatnya, air tidak lagi mengalir normal. Jika kondisi ini terus dibiarkan, risiko besar mengintai para petani:

• Air kokar berpotensi mencari jalur baru yang tidak terkendali

• Lahan pertanian bisa terendam banjir luapan

• Terjadi erosi akibat perpindahan jalur aliran

• Produktivitas pertanian menurun drastis

• Gangguan sistem irigasi otomatis berdampak langsung pada siklus tanam dan hasil panen warga.

Baca Juga:  450 ASN Sumbawa Masuk Usulan Talent Pool

DPRD Desak Normalisasi Segera

Ahmad Nawawi menegaskan bahwa pemerintah daerah melalui dinas terkait harus segera melakukan normalisasi dan pembersihan di titik penyumbatan.

“Kami sangat berharap pemerintah daerah segera turun tangan. Aliran di bawah jembatan harus dibersihkan agar air kembali lancar dan tidak merusak lahan pertanian warga,” tegas politisi PPP tersebut, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, penundaan penanganan hanya akan memperbesar potensi kerugian ekonomi masyarakat, mengingat sektor pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Desa Maronge.

Baca Juga:  Pemprov NTB Tegaskan Pengiriman Ternak 2026 Lebih Tertata

Ancaman Serius bagi Ekonomi Warga

Desa Maronge dikenal sebagai wilayah yang menggantungkan kehidupan masyarakatnya pada sektor pertanian. Jika saluran irigasi tidak segera dinormalisasi, dampaknya bukan hanya pada sawah yang terendam, tetapi juga pada ketahanan ekonomi keluarga petani.

Kondisi darurat ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk bergerak cepat sebelum kerusakan meluas dan biaya pemulihan menjadi semakin besar. Normalisasi kokar bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan pangan dan kesejahteraan masyarakat Maronge. (*)