PARIWISATA

Dispar dan Kemenparekraf Terus Berkolaborasi Bangkitkan Pariwisata NTB

83
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat, H Yusron Hadi saat membuka kegiatan Pelatihan Pemasaran Digital Sub Sektor Unggulan. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Nusa Tenggara Barat terus berupaya maksimal dalam membangkitkan pariwisata daerah. Strategi promosi terus di mantapkan. Salah satu upaya nyata yang dilakukan, Dispar bersama Kemenparekraf RI menggelar pelatihan.

Kali ini terkait dengan pemasaran digital sub sektor unggulan. Pelatihan tersebut menyasar kepada 50 Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ada dilingkup Kabupaten/Kota se-NTB. “(Pelatihan) untuk menyongsong pariwisata NTB agar bisa lebih cepat bangkit,” kata Kepala Dispar NTB Yusron Hadi di Mataram.

Menurut dia, dulunya pariwisata di Provinsi NTB beken lewat destinasi di Senggigi, Lombok Barat. Namun saat ini perlahan bergeser ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang mulai menjadi episentrum baru pariwisata di NTB. “Sekarang sport tourism sebagai ikonnya,” ujar Yusron.

Perubahan ini turut memberi dampak bagi industri pariwisata. Kata Yusron, pemerintah maupun pelaku usaha jasa pariwisata sudah seharusnya mengubah orientasi sasaran wisatawan. Dari lokal dan domestik menjadi mancanegara.

Hotel-hotel di Pulau Lombok dan Sumbawa harus memiliki kualitas pelayanan kelas internasional. Termasuk dengan pramuwisata. “Begitu juga dengan pemerintah melalui ASN-nya, tidak kalah penting harus bervisi pariwisata internasional,” tegasnya Yusron.

Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator harus mengikuti ritme perubahan pariwisata. Apalagi banyak destinasi di Provinsi NTB yang masih mengharapkan pemerintah sebagai garda terdepan untuk memajukan pariwisatanya.

Kondisi ini, kata mantan Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTB itu, menuntut ASN di seluruh kabupaten/kota di NTB agar memiliki kapasitas. Kapabilitas. Serta gambaran wawasan pariwisata dengan standar internasional.

Dengan begitu, sambung Yusron, ASN bisa ikut memandu sektor pariwisata menjadi standar internasional. “Jangan industri pariwisatanya maju, tapi ASN-nya tertinggal. Kalau ASN yang berada di depan saja tidak update kemampuan, kapabilitasnya, bagaimana dengan yang di belakangnya,” katanya.

Untuk meningkatkan kemampuan ASN, Dispar berkolaborasi dengan Kemenparekraf. Salah satu yang dipelajari dalam pelatihan tersebut terkait dengan cara untuk membranding. Dia menilai, branding merupakan satu poin yang sangat krusial bagi sektor pariwisata.

”Bagaimana bisa mempromosikan destinasi atau produk ekraf, kalau tidak punya branding, mengemas citra dengan baik,” ujarnya. Menurut Yusron, setiap kabupaten/kota memiliki ikon pariwisata, mulai dari destinasi, produk ekraf, hingga kulinernya. Yang harus dicitrakan sebaik mungkin.

”Kalau branding tidak terbentuk, bagaimana mau dikenal. Kalau tidak dikenal, orang sudah pasti tidak mau datang,” tutur Yusron. Branding bukan saja soal penampakan secara fisik. Tapi juga rasa. Pariwisata yang merupakan bisnis hospitality, harus diimbangi dengan branding yang memunculkan rasa aman dan nyaman bagi wisata.

Menunjukkan soal keramahtamahan masyarakat NTB saat menerima wisatawan. ”Setelah sudah baik konsep brandingnya, manfaatkan dunia digital. Maksimalkan pemasaran digitalnya. Itu yang dikembangkan,” pesan pria yang juga mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Dislutkan) NTB tersebut.

Kata Yusron, ASN yang dilatih ini diharapkan menjadi duta bagi pelaku pariwsata dan ekonomi kreatif di daerah masing-masing. Agar bisa melakukan transfer ilmu yang diperoleh selama pelatihan. ”Saya optimis pariwisata NTB bisa semakin besar seiring dengan terus melandainya pandemi,” pungkas Yusron Hadi. (red) 

Artikel sebelumyaLalu Lintas Ternak di Sumbawa Kembali Normal
Artikel berikutnyaSoal Kasus Fihiruddin, THPR Somasi Ketua DPRD NTB