
NUSRAMEDIA.COM — Gerakan Bebas Stunting Mendunia yang digagas Tim Penggerak PKK bersama BKKBN Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi memasuki titik akhir setelah melakukan pendampingan di 17 Desa Berdaya.
Desa Tetebatu, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur menjadi lokasi penutup rangkaian kegiatan tersebut pada Sabtu, 6 Desember 2025 kemarin.
Kepala Perwakilan BKKBN NTB, Lalu Makripuddin, menyampaikan bahwa 17 desa tersebut dipilih karena memiliki angka stunting serta tingkat kemiskinan ekstrem yang tergolong tinggi. Program ini berfokus pada intervensi langsung kepada masyarakat, khususnya keluarga berisiko stunting.
“Acara kita ini adalah titik terakhir. Penggerak PKK bergerak di 17 titik Desa Berdaya. Kegiatannya disebut Bebas Stunting Mendunia. Kata Mendunia bukan hanya berarti internasional, tetapi akronim dari Menyehatkan Desa untuk NTB, Ibu dan Anak,” jelas Makripuddin.
RANGKAIAN INTERVENSI : DARI EDUKASI GIZI HINGGA LAYANAN KB KELILING
Dalam kegiatan ini, berbagai intervensi dilakukan, termasuk:
• Edukasi gizi melalui praktik memasak.
• Penguatan program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).
• Pelayanan Keluarga Berencana (KB) melalui mobil layanan keliling.
• Gerakan orang tua asuh bagi keluarga berisiko stunting.
• Pembagian bibit pohon untuk mendukung lingkungan sehat dan intervensi sensitif seperti air bersih dan kebersihan lingkungan.
“Pemasangan KB langsung bisa dilayani di mobil. Kami juga melakukan gerakan orang tua asuh cegah stunting dengan memberikan bantuan kepada keluarga berisiko,” tambahnya.
ANGKA STUNTING NTB MASIH TINGGI
Makripuddin menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting harus terus diperkuat. Berdasarkan data e-PPGBM, angka stunting di NTB berada pada kisaran 13 persen, sedangkan hasil SSGI menunjukkan angka 20,98 persen, yang dipakai sebagai indikator perbandingan antarprovinsi.
“Perubahan perilaku tidak bisa terjadi secara instan, sehingga intervensi seperti ini harus terus dilakukan,” ujarnya.
Ke depan, BKKBN akan fokus pada dua jenis intervensi:
• Intervensi spesifik: edukasi gizi, pemeriksaan kesehatan, dan pemenuhan nutrisi.
• Intervensi sensitif: akses air bersih, kebersihan rumah, dan perbaikan lingkungan.
• Dari 106 Desa Berdaya di NTB, TP PKK memilih 17 desa untuk kunjungan intensif.
DESA TETEBATU CATAT 57 KASUS STUNTING
Kepala Desa Tetebatu, Sabli, mengungkapkan bahwa desanya masih memiliki 46 anak yang tercatat stunting serta 11 keluarga berisiko, sehingga total mencapai 57 kasus.
Ia menilai tingginya angka tersebut berhubungan dengan masih kurangnya perhatian terhadap kesehatan ibu, terutama selama kehamilan.
“Stunting bisa diakibatkan kekurangan gizi sejak dalam kandungan. Jika kesehatan dan kondisi mental ibu tidak diperhatikan, anak rentan lahir dengan risiko stunting,” katanya.
POSYANDU TETAP BERJALAN MESKI SARANA TERBATAS
Dalam upaya penanganan, Pemerintah Desa Tetebatu terus mengoptimalkan layanan posyandu yang digelar setiap bulan. Meski fasilitas belum ideal, layanan tersebut tetap memberikan manfaat besar untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Semua sasaran diberikan makanan tambahan. Meskipun fasilitas belum memadai, pelayanan tetap berjalan dan sangat membantu,” tambah Sabli.
Pemerintah desa berharap masyarakat semakin aktif memanfaatkan layanan kesehatan serta meningkatkan perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak, agar angka stunting di Tetebatu dapat terus ditekan. (*)













