Anggota DPR RI, H. Johan Rosihan, ST resmi melaunching sebuah buku berjudul “Satera Bumung”, karya budayawan Samawa Wahyuddin Latief. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Komitmen menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal kembali ditunjukkan Anggota DPR RI Daerah Pemilihan NTB I Pulau Sumbawa, H. Johan Rosihan, ST.

Legislator Senayan dari Fraksi PKS itu secara resmi melaunching sebuah buku berjudul “Satera Bumung”, karya budayawan Samawa Wahyuddin Latief, pada Sabtu, 7 Februari 2026.

Buku yang mengangkat seni tutur tradisional Sumbawa (lawas) tersebut diluncurkan di Rumah Aspirasi (RA) Johan Rosihan (JR). Acara berlangsung khidmat, hangat, dan sarat nuansa kebersamaan, dengan dihadiri berbagai unsur tokoh masyarakat dan adat.

Tampak hadir Pajatu Lembaga Adat Tana Samawa (LATS), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumbawa, serta sejumlah tokoh budaya dan masyarakat Sumbawa lainnya.

Kehadiran para tokoh tersebut menegaskan bahwa pelestarian lawas bukan hanya kepentingan seni, tetapi juga menyangkut identitas dan jati diri masyarakat Samawa.

Baca Juga:  Hadiri HPN 2026 di Banten, Momentum PWI NTB Bangun Jejaring Nasional

Buku Satera Bumung merupakan buah pemikiran dan dedikasi Wahyuddin Latief, budayawan asal Lenangguar, kelahiran Dusun Pemangong, yang juga dikenal luas dengan sebutan “Datu Lawas”.

Sosok sederhana Wahyuddin Latief dikenal sebagai salah satu figur yang konsisten menjaga dan menghidupkan tradisi lawas di tengah arus modernisasi.

Dalam sambutannya, Johan Rosihan menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal, khususnya lawas Sumbawa, merupakan tanggung jawab bersama yang tidak boleh terputus oleh zaman.

“Pentingnya mencintai budaya Sumbawa melalui lawas,” ujar Johan di hadapan para undangan. Ia mengungkapkan, lawas bukan sekedar ekspresi seni, melainkan wadah nilai.

Yakni pesan moral, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, upaya pembukuan lawas menjadi langkah strategis agar tradisi lisan tersebut tidak hilang ditelan waktu.

Diketahui, Johan Rosihan juga terlibat langsung dalam proses penyusunan dan pembukuan kumpulan lawas yang dimuat dalam buku Satera Bumung. Keterlibatannya tersebut merupakan bentuk nyata dukungan terhadap pelaku budaya lokal.

Baca Juga:  Pemkab Sumbawa Siapkan Sistem Baru Usai Website Resmi Disusupi Judi Online

Anggota Komisi IV DPR RI itu berharap, buku Satera Bumung dapat dipelajari secara luas oleh masyarakat, terutama generasi muda Tana Samawa, sebagai media pembelajaran dan penguatan identitas budaya.

“Budaya lawas Sumbawa harus tetap hidup. Oleh karena itu, buku ini bisa dipelajari dan menjadi bahan bagi generasi muda kita untuk terus melestarikan salah satu warisan budaya melalui lawas,” tegasnya.

Sebagai informasi, lawas merupakan salah satu akar utama kesenian dan tradisi masyarakat Sumbawa. Ia menjadi fondasi bagi berbagai bentuk seni, seperti musik, tari, hingga adat-istiadat yang berkembang di Nusa Tenggara Barat, khususnya di Kabupaten Sumbawa.

Lawas dikenal sebagai puisi lisan tradisional masyarakat Samawa yang disampaikan secara turun-temurun dari mulut ke mulut. Pertunjukannya dapat ditampilkan di berbagai tempat, baik dalam forum adat, pertunjukan panggung, maupun acara masyarakat.

Baca Juga:  Tak Lagi Bergantung pada Jawa, NTB Bangun Industri Ayam Terintegrasi dari Hulu hingga Hilir

Dalam prakteknya, lawas tidak hanya menjadi hiburan. Ia kerap digunakan sebagai media komunikasi sosial untuk menyampaikan pesan, nasehat, nilai moral, dan refleksi kehidupan.

Lawas dapat dituturkan oleh satu orang, maupun dua orang secara berbalas yang dikenal dengan istilah balawas. Meski tergolong vokal tradisional, para penutur lawas mampu membangun interaksi yang kuat dengan penontonnya.

Inilah yang menjadikan lawas tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat. Melalui peluncuran buku Satera Bumung, diharapkan seni tutur lawas tidak hanya lestari sebagai tradisi lisan, tetapi juga terdokumentasi dengan baik sebagai warisan budaya tak benda yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang. (*)