
NUSRAMEDIA.COM — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), bersama empat bendungan lainnya di Bali, Jawa Tengah, dan Aceh secara serentak dari Bendungan Meninting, Jumat (10/7/2026). Peresmian ini menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan, ketahanan air, dan ketahanan energi nasional melalui pembangunan infrastruktur sumber daya air.
Presiden didampingi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, jajaran Menteri Kabinet Merah Putih, Panglima TNI, Kapolri, Gubernur NTB, Wakil Gubernur NTB beserta Forkopimda, para bupati dan wali kota se-NTB, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan petani yang akan menjadi penerima manfaat langsung Bendungan Meninting.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pembangunan bendungan tidak boleh berhenti pada selesainya konstruksi. Infrastruktur tersebut harus benar-benar mampu mengalirkan air hingga ke lahan pertanian sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh petani sebagai ujung tombak ketahanan pangan nasional.
“Pastikan bahwa air yang dibutuhkan petani sampai kepada petani. Para petani adalah produsen pangan. Tanpa pangan tidak ada negara,” tegas Presiden.
Menurut Presiden, pembangunan bendungan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan masa depan bangsa. Karena itu, setiap proyek infrastruktur harus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produktivitas pertanian, kesejahteraan masyarakat, serta penguatan ketahanan pangan Indonesia.
Prabowo juga mengingatkan bahwa pembangunan nasional merupakan proses yang berkelanjutan dan melampaui pergantian pemerintahan. Sebuah proyek dapat dimulai oleh satu pemerintahan dan diselesaikan oleh pemerintahan berikutnya. Kesinambungan tersebut, kata Presiden, merupakan cerminan semangat persatuan dalam membangun Indonesia.
“Pemerintah yang investasi pertama, pemerintah yang groundbreaking, pemerintah yang mulai membangun mungkin bukan pemerintah yang meresmikan. Inilah pembangunan bangsa. Inilah kebangkitan bangsa,” ujarnya.
Selain memastikan manfaat pembangunan dirasakan masyarakat, Presiden juga mengingatkan seluruh penyelenggara negara agar menjaga integritas dalam mengelola keuangan negara. Ia menegaskan setiap anggaran pembangunan harus digunakan secara bertanggung jawab dan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat.
“Setiap rupiah uang rakyat harus dimanfaatkan dan dinikmati oleh rakyat Indonesia,” katanya.
Presiden turut berpesan kepada seluruh kepala daerah dan pemimpin di berbagai tingkatan agar menjalankan amanah dengan ketulusan serta menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi.
“Pimpinlah dengan cinta kepada rakyat. Hindari niat menjadi kaya di atas penderitaan rakyat kecil. Pemimpin yang suka berbohong adalah bencana bagi rakyat,” pesan Presiden.
Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menjelaskan bahwa lima bendungan yang diresmikan merupakan bagian dari pembangunan bendungan nasional periode 2015–2025 yang mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo, terutama dalam mewujudkan swasembada pangan, ketahanan air, dan ketahanan energi.
Lima bendungan tersebut meliputi Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, NTB; Bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah; Bendungan Sidan di Kabupaten Gianyar, Bali; Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara; serta Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh.
Secara keseluruhan, kelima bendungan memiliki kapasitas tampung sekitar 371 juta meter kubik dengan dukungan jaringan irigasi sepanjang 280 kilometer yang mampu melayani sekitar 40.000 hektare lahan pertanian. Infrastruktur tersebut diproyeksikan meningkatkan produksi padi hingga 720.000 ton per tahun, menyediakan air baku sebesar 3,6 meter kubik per detik, mengurangi risiko banjir pada kawasan seluas sekitar 932 hektare, serta mendukung pengembangan energi baru terbarukan melalui potensi PLTA 9,6 megawatt dan PLTS terapung 346 megawatt.
Khusus Bendungan Meninting, keberadaannya akan mengairi sekitar 1.600 hektare lahan pertanian, meningkatkan intensitas tanam dari satu kali menjadi tiga kali panen setiap tahun, menyediakan air baku bagi sekitar 100.000 jiwa, serta membantu mengurangi potensi banjir di wilayah Lombok Barat dan sebagian Kota Mataram. Bendungan ini juga diharapkan mengakhiri konflik perebutan air antarpetani yang selama bertahun-tahun terjadi pada musim kemarau.
Menteri Dody menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan bendungan tidak diukur dari megahnya bangunan yang berdiri, melainkan dari kemampuannya mengalirkan air hingga ke sawah dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Peresmian Bendungan Meninting bersama empat bendungan lainnya menjadi penegasan komitmen pemerintah dalam memperkuat pembangunan infrastruktur sumber daya air sebagai fondasi ketahanan pangan, ketahanan air, dan ketahanan energi nasional. Dengan memastikan air benar-benar mengalir hingga ke lahan pertanian, pemerintah berharap produktivitas pertanian meningkat, kesejahteraan petani semakin baik, dan cita-cita swasembada pangan Indonesia dapat terwujud. (*)













