Kepala Dinas Damkartan Sumbawa, H. Sahabuddin. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kabupaten Sumbawa mengusulkan pembangunan tiga pos pemadam kebakaran baru pada tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya mempercepat respons penanganan kebakaran di wilayah yang dinilai rawan.

Kepala Dinas Damkartan Sumbawa, H. Sahabuddin, menyebutkan tiga lokasi prioritas tersebut berada di kawasan perbatasan Kecamatan Lape–Lopok, Ropang–Lantung, serta Kecamatan Moyo Hulu.

“Tiga titik ini sangat perlu dibangun pos pemadam agar penanganan kebakaran bisa lebih cepat dan maksimal,” ujarnya. Menurutnya, pertimbangan utama pembangunan pos baru adalah lamanya waktu tempuh petugas menuju lokasi kejadian.

Selama ini, sejumlah wilayah masih mengandalkan layanan dari Markas Komando (Mako) di Sumbawa maupun pos yang jaraknya cukup jauh. Wilayah Lape–Lopok, misalnya, selama ini dilayani dari Mako Sumbawa dan Pos Plampang.

Baca Juga:  Wastra NTB Tembus Australia, Strategi Budaya Menuju Pasar Global

Padahal, kawasan tersebut memiliki kepadatan penduduk tinggi dan kondisi geografis yang cenderung panas, sehingga berisiko tinggi terhadap kebakaran. “Untuk Lape–Lopok, rencananya pos akan dibangun di wilayah Langam agar jangkauan pelayanan lebih dekat,” jelasnya.

Hal serupa terjadi di Kecamatan Ropang dan Lantung yang selama ini ditangani dari Mako Sumbawa dan Pos Moyo Hilir. Jarak yang jauh serta kondisi infrastruktur jalan yang belum memadai membuat respons penanganan menjadi kurang optimal.

Sementara itu, Kecamatan Moyo Hulu juga dinilai membutuhkan pos tersendiri mengingat jumlah penduduk yang besar dan tingginya potensi kebakaran. “Selama ini Moyo Hulu masih dilayani dari Moyo Hilir dan Sumbawa. Dengan jumlah penduduk yang besar, tentu perlu pos sendiri,” tambahnya.

Baca Juga:  Bupati Jarot Resmi Buka Musrenbang RKPD 2027, Tekankan Sinergi dan SDM Unggul

Selain pembangunan pos, Disdamkarmat juga mengusulkan penambahan armada dan personel. Saat ini, sebagian besar pos hanya memiliki satu unit mobil pemadam, yang dinilai belum mampu meng-cover kebutuhan saat terjadi kebakaran.

“Minimal setiap pos memiliki dua unit mobil pemadam agar penanganan lebih maksimal,” tegasnya. Untuk pengadaan tiga unit mobil pemadam di pos yang diusulkan, dibutuhkan anggaran sekitar Rp6 miliar, dengan estimasi harga Rp2 miliar per unit, belum termasuk biaya operasional dan personel.

Baca Juga:  Bupati Jarot Buka Forum Gabungan Perangkat Daerah, Fokus Sinkronisasi RKPD 2027

Secara keseluruhan, Disdamkarmat Sumbawa memperkirakan kebutuhan anggaran mencapai Rp36 miliar untuk pengadaan 18 unit mobil pemadam tambahan. Saat ini, total armada yang dimiliki hanya 12 unit, sebagian besar dalam kondisi tua. “Dengan tambahan tersebut, kami harapkan seluruh kecamatan bisa memiliki armada sendiri, sehingga penanganan kebakaran lebih cepat dan merata,” jelas Sahabuddin.

Ia menambahkan, idealnya setiap kecamatan memiliki minimal satu unit mobil pemadam, sementara di Mako tersedia setidaknya lima unit untuk mendukung operasi skala besar. “Kami akui saat ini masih kewalahan ketika terjadi kebakaran. Dengan penambahan pos dan armada, diharapkan risiko korban jiwa maupun kerugian bisa diminimalisir,” pungkasnya. (*)