Kepala Bapperida Kabupaten Sumbawa melalui Kabid Ekonomi dan Sumber Daya Alam, Andi Kusmayadi. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Pemerintah Kabupaten Sumbawa tengah menyiapkan strategi khusus untuk menekan kebocoran nilai tambah dari berbagai komoditas unggulan daerah yang selama ini lebih banyak keluar dalam bentuk bahan mentah. Salah satu langkah utama yang disiapkan adalah penerapan skema lelang komoditas berbasis digital guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kepala Bapperida Kabupaten Sumbawa melalui Kabid Ekonomi dan Sumber Daya Alam, Andi Kusmayadi, mengungkapkan bahwa potensi ekonomi dari komoditas unggulan Sumbawa sangat besar, namun belum memberikan kontribusi maksimal bagi daerah.

“Ada sekitar Rp20,6 triliun nilai komoditas unggulan yang kita miliki. Namun, sebagian besar mengalir ke luar daerah dalam bentuk bahan mentah sehingga tidak memberikan nilai tambah signifikan terhadap PAD,” ujarnya.

Baca Juga:  Bank NTB Syariah Salurkan Bantuan ke Desa Kalimango

Menurutnya, besarnya potensi tersebut tidak sebanding dengan penerimaan daerah yang masih relatif kecil. Selain itu, sejumlah persoalan turut menjadi tantangan, seperti kerusakan ekosistem pesisir, degradasi lahan, keterbatasan infrastruktur jalan, hingga potensi konflik sosial.

“Kebocoran nilai tambah ini sangat besar, sementara PAD yang kita peroleh hanya seperti setetes air. Karena itu, kami mencoba mengintegrasikannya melalui infrastruktur lelang,” jelasnya.

Skema lelang yang dirancang akan berbasis digital dan terintegrasi, sehingga seluruh proses perdagangan komoditas unggulan dapat dipantau secara transparan. Sistem ini diharapkan mampu menutup celah kebocoran sekaligus mendorong kemitraan bisnis yang lebih sehat.

Baca Juga:  Gubernur dan Wagub NTB Kompak Dorong Percepatan Pembangunan

“Secara regulasi, aset daerah bisa termanfaatkan dengan baik, kemitraan bisnis berjalan, dan pada akhirnya pendapatan daerah meningkat,” tambahnya. Jika strategi ini berjalan optimal, dari total nilai produksi delapan komoditas unggulan yang mencapai Rp20,45 triliun, Sumbawa berpotensi meraih PAD hingga Rp462,6 miliar.

Data yang dihimpun menunjukkan, komoditas unggulan daerah meliputi berbagai sektor. Budidaya udang vaname menjadi penyumbang terbesar dengan nilai produksi rata-rata Rp10,16 triliun dan potensi PAD Rp254 miliar. Disusul rumput laut senilai Rp2,37 triliun (PAD Rp59,25 miliar) dan jagung pipilan kering Rp2,94 triliun (PAD Rp58,85 miliar).

Selain itu, sektor pertanian padi menyumbang nilai produksi Rp1,57 triliun dengan potensi PAD Rp31,55 miliar. Peternakan sapi hidup menghasilkan Rp2,09 triliun (PAD Rp20,97 miliar), bawang merah Rp827,8 miliar (PAD Rp16,55 miliar), kopi Rp81,2 miliar (PAD Rp1,62 miliar), serta perikanan tangkap Rp395,1 miliar dengan potensi PAD Rp19,75 miliar.

Baca Juga:  Kolaborasi TP PKK-DWP Sumbawa Salurkan Bantuan dan Lakukan Trauma Healing

Pemerintah daerah berharap, melalui integrasi sistem lelang ini, tidak hanya pendapatan yang meningkat, tetapi juga dampak negatif seperti kerusakan lingkungan dan ketimpangan ekonomi dapat ditekan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya transformasi ekonomi daerah agar tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar di dalam daerah. (*)