
NUSRAMEDIA.COM — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat pengembangan industri perikanan melalui hilirisasi sektor tambak udang. Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Ramah Tamah dan Diskusi Hilirisasi Industri Tambak Udang di NTB yang digelar bersama pelaku usaha dan Shrimp Club Indonesia (SCI) Wilayah Lombok di Hotel Aston Inn Mataram, belum lama ini.
Forum ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong investasi, meningkatkan nilai tambah produk perikanan, serta memperkuat daya saing sektor kelautan dan perikanan NTB di pasar global.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menciptakan iklim investasi yang ramah, kondusif, dan berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan investasi harus memberikan manfaat bagi pelaku usaha, masyarakat, dan lingkungan secara seimbang.
“Jangan ragukan komitmen kami untuk mendorong industri perikanan di daerah kami, karena kami ingin menjadi provinsi yang investor friendly. Kami sadar teman-teman berbisnis bukan untuk sosial, tetapi kami ingin teman-teman untung, masyarakat senang, dan lingkungan tetap terjaga,” ujar Gubernur Iqbal.
Ia menekankan bahwa keberlanjutan lingkungan menjadi syarat utama dalam pengembangan industri udang di NTB. Pemerintah tidak ingin pertumbuhan ekonomi mengorbankan kualitas lingkungan yang menjadi aset penting daerah, termasuk sektor pariwisata.
“Kita tidak ingin dapat uang sekarang, tapi besok semua mati karena lingkungan rusak. Kita ingin tambak bisa berdampingan dengan pariwisata,” tegasnya.
Sebagai bentuk kepastian bagi investor, Gubernur Iqbal juga memastikan stabilitas kebijakan di tingkat provinsi. Ia menyatakan bahwa dalam empat tahun ke depan, Pemerintah Provinsi NTB akan menjaga regulasi tetap mendukung iklim usaha dan investasi.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya hilirisasi sebagai langkah meningkatkan nilai tambah produk perikanan. Menurutnya, hasil perikanan NTB harus diproses dan diekspor dari daerah agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat dirasakan lebih besar oleh masyarakat dan pemerintah daerah.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, Muslim, mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah konkret untuk mendukung investasi sektor perikanan, termasuk penyusunan regulasi daerah yang sejalan dengan agenda hilirisasi nasional.
“Penyusunan perda ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden terkait pentingnya hilirisasi sebagai agenda strategis nasional,” katanya.
Muslim menjelaskan, Dislutkan NTB telah menyiapkan Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) untuk pengembangan hilirisasi udang. Selain itu, pemerintah juga siap memfasilitasi kebutuhan lahan bagi investor, termasuk potensi lahan seluas 100 hektare di kawasan Bandara Internasional Lombok.
Untuk mempercepat realisasi investasi, pemerintah daerah juga akan membentuk tim terpadu guna mempercepat proses perizinan sehingga pelaku usaha dapat menjalankan investasinya dengan lebih efektif dan efisien.
Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI), Andi Tamsil, menyatakan bahwa hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan kontribusi ekonomi sektor udang bagi daerah. Menurutnya, selama ini manfaat ekonomi yang dihasilkan belum sepenuhnya memberikan nilai tambah maksimal di tingkat lokal.
“Karena itu, kita perlu mendorong agar manfaat ekonomi tetap berputar di daerah,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kepastian regulasi serta penerapan standar internasional dalam produksi udang. Penggunaan benur bersertifikat bebas penyakit dan penghindaran antibiotik terlarang menjadi faktor penting agar produk udang Indonesia mampu bersaing dan diterima di pasar global.
Senada dengan itu, Ketua SCI Wilayah Lombok, Suryadi Adinata, menyampaikan bahwa industri tambak udang saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan produksi, risiko gagal panen, hingga dinamika perdagangan internasional seperti tarif antidumping dan tuntutan standar global.
Karena itu, menurutnya, penyederhanaan perizinan, penguatan iklim investasi, dan percepatan hilirisasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing industri udang NTB.
Melalui forum ini, seluruh pihak menegaskan bahwa hilirisasi industri tambak udang merupakan strategi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan investasi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat posisi NTB sebagai salah satu sentra perikanan unggulan Indonesia dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan. (*)













