Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P. hadiri PENAS XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026 di Gorontalo. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus menunjukkan keseriusannya dalam mengawal masuknya investasi strategis berskala nasional. Di sela kehadirannya pada Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan Tahun 2026 di Gorontalo, Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., melakukan pertemuan penting dengan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Direktur Utama PT Berdikari, serta Direktur Hilirisasi guna mempercepat realisasi Proyek Hilirisasi Unggas Terintegrasi di Pulau Sumbawa.

Pertemuan tersebut menghasilkan sinyal positif bagi kelanjutan proyek yang telah masuk dalam kategori Program Strategis Nasional (PSN). Bupati Jarot mengungkapkan bahwa tim dari Kementerian Pertanian bersama PT Berdikari akan segera melakukan kunjungan lapangan ke Sumbawa untuk memastikan kesiapan lokasi yang telah diusulkan Pemerintah Kabupaten Sumbawa.

“Alhamdulillah, hasil pembahasan sangat menggembirakan. Tim dari Kementerian Pertanian dan PT Berdikari akan segera turun ke Sumbawa untuk memastikan kesiapan lahan yang telah kami siapkan,” ujar Bupati Jarot.

Baca Juga:  Jangan Tergiur Jalan Pintas ke Luar Negeri, Disnakertrans Sumbawa Serukan Perang Melawan TPPO

Proyek Hilirisasi Unggas Terintegrasi ini merupakan investasi besar dengan nilai mencapai Rp1,2 hingga Rp1,7 triliun yang digarap oleh BUMN melalui ID FOOD dan PT Berdikari, dengan dukungan Danantara. Proyek tersebut dirancang membangun ekosistem industri peternakan unggas secara menyeluruh, mulai dari pembibitan, produksi pakan, budidaya ayam, rumah potong unggas modern, pengolahan hasil, hingga sistem distribusi yang terintegrasi.

Menurut Bupati Jarot, kehadiran proyek ini akan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi baru bagi Kabupaten Sumbawa dan Pulau Sumbawa secara umum. Selain menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar, proyek ini juga diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan peternak lokal melalui penguatan rantai pasok dan pengembangan industri hilir berbasis unggas.

Baca Juga:  Dari Negeri Seribu Masjid ke Negeri Seribu Perlindungan : Kritik Cinta untuk Keselamatan Santri

Sebagai bentuk dukungan terhadap percepatan investasi, Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah menyiapkan beberapa alternatif lokasi pengembangan. Selain kawasan yang sebelumnya direncanakan di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir, pemerintah daerah juga menawarkan sejumlah opsi lain, yakni Teluk Santong, Bangkong, dan Kerato, guna memastikan kebutuhan investor dapat terpenuhi secara optimal.

“Kami ingin memastikan proyek strategis ini tetap berada di Sumbawa dan segera terealisasi. Karena itu, berbagai alternatif lahan telah kami siapkan agar proses pengembangan dapat berjalan lebih cepat dan sesuai kebutuhan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Bupati Jarot menjelaskan bahwa hasil komunikasi dengan pemerintah pusat dan pihak pelaksana proyek menunjukkan komitmen kuat untuk menjadikan Pulau Sumbawa sebagai basis pengembangan industri unggas terintegrasi. Pelaksanaannya akan dilakukan melalui pembagian peran antara Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat Pulau Sumbawa.

Baca Juga:  Kabar Baik bagi Wajib Pajak, NTB Bebaskan Denda PKB dan Hapus Tunggakan Lama

Dengan dukungan penuh pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta BUMN pelaksana, proyek ini diharapkan menjadi tonggak baru transformasi ekonomi daerah. Kehadiran industri unggas terintegrasi tidak hanya memperkuat posisi Sumbawa sebagai sentra peternakan nasional, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya berbagai industri turunan yang mampu meningkatkan daya saing daerah di tingkat nasional.

“Dengan potensi yang dimiliki, kami optimistis proyek ini akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi baru di Pulau Sumbawa sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai sentra peternakan unggas nasional,” pungkas Bupati Jarot. (*)