NASIONAL

DPRD NTB Sarankan WSBK 2022 Dijadikan Pembelajaran

141
Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat, H Mori Hanafi. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Gelaran World Superbike (WSBK) 2022 sudah didepan mata. Hanya saja DPRD Nusa Tenggara Barat menilai minat orang luar dari NTB untuk menyaksikan event dunia itu minim. Oleh karenanya, dewan menyarankan agar WSBK tahun ini dapat dijadikan pembelajaran serta menjadi ajang perbaikan untuk lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

“Sepinya minat orang luar NTB menonton WSBK tahun ini wajib menjadi pelajaran dan perbaikan dalam semua sektor di tahun-tahun mendatang,” kata anggota DPRD NTB Mori Hanafi, Senin (7/11) di Mataram. Apa yang disampaikan Legislator Udayana jebolan asal Dapil Dompu, Bima dan Kota Bima itu bukan tanpa alasan. Menurut dia, ada beberapa alasan orang luar daerah enggan menyaksikan WSBK 2022.

Baca Juga:  Hadiri Rakor di Bali, Khairul Akbar Paparkan Upaya Penanggulangan PMK di NTB

Pertama, kata Mori Hanafi, WSBK levelnya dibawah MotoGP. Kemudian dari sisi fansnya tidak banyak. Oleh karenanya, sambung dia, hampir semua penyelenggaraan WSBK penontonnya sepi. Tak hanya itu, hal ini pula berkaca dari pengalaman harga penginapan sebelumnya yang terlalu tinggi. “Harga hotel dan losmen naiknya terlalu tinggi tahun 2021 lalu. Jadi banyak yang trauma sampai saat ini,” katanya.

“Makanan mahal, tiket pesawat mahal (WSBK 2021 dan MotoGP 2022). Tiket WSBK (2022) mahal (hanya diskon 50 persen khusus KTP NTB). Promosi yang dilakukan tidak mencerminkan bahwa WSBK ini adalah event kelas dunia. Sangat biasa bahkan normatif,” ujar Mori Hanafi. Dicontohkannya seperti biaya nonton. Pertama nonton MotoGP Malaysia, menurut dia, ada sekitar Rp6 juta tiga hari dua malam harus merogoh kocek. Ini seperti di hotel bintang 4, tiket pesawat, tiket nonton hingga free transport Kuala Lumpur-Sirkuit.

Baca Juga:  Dwi Sudarsono Resmi Dilantik Jadi Kepala Ombudsman NTB

Sementara nonton WSBK/MotoGP Mandalika, kata dia, Rp6 juta untuk empat hari 3 malam. Inipun di hotel bintang 2 atau 3 di Mataram dan tiket WSBK/MotoGP. “Tidak termasuk tiket pesawat dan transport,” kata Mori Hanafi. “Jadi kalau nonton ke mandalika perlu biaya minimal Rp12 juta. Bahkan kalau stay nya di daerah mandalika dapatnya hanya sekelas losmen. Saya kan sudah sampaikan secara menyeluruh yang perlu di evaluasi,” sambungnya.

Menurut perkiraannya, butub waktu satu atau dua tahun untuk mengembalikan kepercayaan para penonton nasional. Karena, harga wajib disesuaikan. “Misalnya maksimal naik dua kali lipat dulu harga makan minum,” kata Mori Hanafi. “Khusus pemerintah daerah wajib promosinya harus lebih detail lagi. Misalnya siapa-siapa saja yang jadi pembalap, profil-profilnya perlu diangkat. Sehingga para calon penonton akan lebih tertarik,” sarannya.

Baca Juga:  Johan Salurkan Puluhan Ton Bibit Jagung Untuk 9 Kecamatan di Bima

Dicontohkannya pada gelaran MotoGP, yang mana orang mau menyaksikan lantaran mengenal para pembalapnya. “Kayak MotoGP aja zamannya Valentino Rossi, orang pada nonton karena mau lihat dia juga,” tegasnya. “Nah, ini siapa yang mau balap di WSBK kita nggak ada yang tahu. Padahal juara-juara dunia juga,” demikian Mori Hanafi yang juga mantan Wakil Ketua I DPRD Provinsi NTB tersebut menambahkan. (red) 

Artikel sebelumyaTim Pembela Rakyat Dampingi Fihiruddin Datangi DPRD NTB, Minta BK Kroscek Kebenaran Soal “Kabar Angin”
Artikel berikutnyaKetua Komisi II DPRD NTB Nilai Kinerja BPPD dan Dispar Sudah Maksimal