NASIONAL

Johan Kritisi Soal Penambahan Kawasan Padi : “Pemerintah Harus Sadar”

180
Anggota Komisi IV DPR Republik Indonesia, H Johan Rosihan, ST. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Johan Rosihan mengkritisi soal klaim pemerintah mengenai adanya penambahan kawasan budidaya padi atau klaim peningkatan fasilitas penerapan budidaya padi seluas 1.215.853 hektare tahun 2018 yang meningkat menjadi 3.443.625 hektare secara kumulatif pada tahun 2022 ini.

Menurut anggota Komisi IV DPR RI tersebut, klaim pemerintah ini patut dipertanyakan. Sebab, faktanya produksi Gabah Kering Giling (GKG) dalam tiga tahun terakhir ini fluktuatif dan cenderung mengalami penurunan. “Kalau kita buka data BPS tahun 2020 terlihat produksi GKG sebesar 54.649.202 ton dan bandingkan dengan produksi GKG tahun 2021 yang sebesar 54.415.294 ton. Ini artinya produksi GKG berkurang sebesar 233.908 ton,” ungkap Johan kepada NUSRAMEDIA, Jum’at malam (19/8) kemarin.

Baca Juga:  Dukung PON XXII 2028, Ketum KONI NTB Sampaikan Terimakasih Kepada Ketua MPR RI

Dikatakan, melambatnya laju pertumbuhan produksi gabah secara nasional, akibat adanya kompetisi dalam penggunaan lahan, degradasi sumberdaya pertanian, terbatasnya dukungan infrastruktur pertanian serta tidak adanya terobosan teknologi secara signifikan. “Saya ingatkan pemerintah, bahwa kita jangan hanya terobsesi dengan penambahan luas kawasan budidaya,” tegasnya.

“Namun seringkali mengabaikan perlunya terobosan teknologi baru di bidang produksi serta lemahnya intensifikasi tanaman padi dengan penerapan budidaya alternatif. Seperti mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara,” sambung pria yang juga Sekretaris Fraksi MPR RI tersebut.

Oleh karenanya, Johan berharap pemerintah lebih serius meminimalisir laju perubahan penggunaan lahan serta selalu memperhatikan pola kesesuaian dan ketersediaan lahan untuk padi. Kemudian, kata dia, jangan hanya mengklaim adanya penambahan kawasan padi tanpa memperbaiki data perubahan penggunaan lahan padi yang terus terjadi akibat alih fungsi lahan.

Baca Juga:  Johan Salurkan Puluhan Ton Bibit Jagung Untuk 9 Kecamatan di Bima

“Saya minta pemerintah mengevaluasi keselarasan kesesuaian lahan untuk kawasan padi pada rencana pola tata ruang, agar dapat meningkatkan upaya pengelolaan budidaya padi untuk memperoleh hasil produksi gabah yang lebih optimal,” pinta Wakil Rakyat di Senayan jebolan asal Dapil NTB 1 Pulau Sumbawa tersebut.

Tak hanya itu, Johan juga menekankan agar pemerintah memberi prioritas pada upaya peningkatan hasil produksi GKG. Karena, lanjut pria kelahiran asal Kabupaten Sumbawa tersebut, hasilnya berdampak langsung terhadap pendapatan petani. “Kita menjadi prihatin,” ungkap Ketua DPP PKS Bidang Pembinaan Wilayah (BPW) Bali-Nusra ini.

“Karena saat ini kesejahteraan petani belum menjadi prioritas pemerintah dan pemerintah ternyata hanya sibuk dengan penambahan luas lahan dengan projek food estate, pembukaan lahan sawah baru dan lain-lain namun hasilnya produksi cenderung stagnan bahkan menurun,” sambung Johan mensesalkan.

Baca Juga:  Hadiri Rakor di Bali, Khairul Akbar Paparkan Upaya Penanggulangan PMK di NTB

Pemerintah, masih kata dia, seharusnya segera sadar. Terlebih saat ini Nilai Tukar Petani (NTP) untuk petani tanaman pangan merupakan yang terendah. “Pemerintah harus sadar bahwa saat ini NTP untuk petani tanaman pangan merupakan yang terendah,” sesalnya lagi.

“Data BPS menyebutkan bahwa NTP tahun 2022 ini berada pada titik terendah yakni 95,28 pada Juli 2022 kemarin. NTP di bawah 100 ini maknanya indeks harga yang diterima petani lebih rendah dibandingkan harga yang dibayarkan. Jadi kepada pemerintah agar berhentilah terlalu banyak retorika dan gimmick politik. Mari berjuang membela kepentingan petani agar lebih sejahtera,” demikian Johan Rosihan. (red) 

Artikel sebelumyaBang Zul : “Masjid Sederhana, Tapi Diisi Manusia yang Mulia”
Artikel berikutnyaWNA Portugis Jatuh dari Gunung Rinjani